Selasa, 21 November 2017
Indonesian English

Sejarah Gasol

HIKAYAT DESA DI KAKI GEDE

Oleh: Hendi Johari*)

Bermula dari sebuah lahan tempat pengungsian. Berkembang menjadi salah satu sentra produksi beras lokal terbesar di Jawa Barat.

Makam tua itu membisu seribu basa dimakan zaman. Di atasnya, kumpulan batu kali sebesar kepala bayi itu tertumpuk rapi, membentuk ruas persegi panjang 1X1,5 meter persegi. Dari sela-sela bagian batu di bagian tengah, muncul sebatang pohon mawar merah berduri, seolah berfungsi sebagai penghias sekaligus pelindung makam tersebut dari sengatan terik matahari


“Ini makam Hajah Maing Khodijah, pendiri sekaligus pemimpin pertama desa kami,”ungkap Ahmad Nasai (60), salah satu sesepuh di Gasol. Itu sebuah nama desa yang terletak di kawasan kaki Gunung Gede dan masuk dalam wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Sejak zaman baheula, Gasol dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil beras lokal kualitas nomor 1 di Cianjur. Karena struktur, tekstur dan unsur hara tanahnya yang baik buat bercocok tanam, di desa yang terdiri dari 4 dusun itu, berbagai varietas padi lokal tumbuh subur. Mulai gebang omyok, hawara batu, peuteuy, pare menyan (beurem seungit), conggreng, ketan cikur, banggala, cingkrik, hawara jambu, rogol dan berbagai nama varietas padi yang bisa jadi anak-anak muda Gasol sekalipun saat ini tidak mengenalnya.

“Anak-anak muda Gasol sekarang mah lebih hapal nama-nama merk sepeda motor dibandingkan nama-nama jenis pare ageung,”ujar A.Buchori Muslim, Kepala Dusun II di Desa Gasol. Pare ageung merupakan sebutan para petani Cianjur untuk jenis padi lokal.  

Gasol sendiri merupakan desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Cugenang. Luasnya sekitar 233.264 ha yang secara keseluruhan memiliki penduduk  berjumlah 6736 jiwa (2010). Hampir sebagian besar wilayah Gasol adalah lahan pertanian. Otomatis dengan situasi seperti itu, mata pencaharian penduduk Gasol mayoritas  adalah petani.

“Sebenarnya orang Gasol itu identik dengan petani. Sekarang saja jumlahnya mulai berkurang karena ada sebagian anak-anak kami yang lebih memilih menjadi kuli bangunan, buruh pabrik, tukang ojeg atau jadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Arab dan Malaysia,”ujar T.Syam Soeuri, salah satu aparat pemerintah di Desa Gasol.

Pernyataan Syam, diamini oleh Aki Elon (85). Menurut lelaki paling sepuh di Gasol itu, sebenarnya tak ada cerita orang Gasol itu menjadi pegawai pemerintah, pedagang apalagi sebagai buruh pabrik atau tukang ojeg. ”Kami adalah petani padi. Mengapa? Karena karuhun (nenek moyang) kami juga adalah petani,”kata lelaki tua yang terlihat masih bugar tersebut. Benarkah?
*

SUATU HARI DI TAHUN 1900-AN. Puluhan bendi yang sarat penumpang dan muatan bergerak dari arah Pameungpeuk, sebuah kampung di utara wilayah Cugenang. Guna menghindari jalan yang sempit dan curam, mereka terpaksa jalan dalam ritme yang pelan. “Bayangkan saja saat itu, jalan ageung yang melewati jalur Cugenang juga masih belum sebagus sekarang,”ujar Ahmad Nasai yang sehari-hari akrab dikenal warga Gasol dengan sebutan Apih Iyang itu.

Jalan ageung adalah sebutan orang Sunda untuk Jalan Raya Pos. Itu nama jalan utama di Jawa yang pembuatannya diilhami oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada 1809 dengan darah dan air mata orang-orang bumiputera.

Lantas siapa orang-orang yang ada dalam bendi dan pedati tersebut? Mereka tak lain adalah rombongan ‘pengungsi’ yang diperintahkan hijrah oleh Pemerintah Hindia Belanda ke selatan jalan raya pos Cugenang, tepat di timur kaki Gunung Gede. “Uniknya rombongan itu dipimpin oleh seorang perempuan tua bernama Hajah Maing Khodijah dan suaminya yang bernama Haji Tohir,”tutur Apih Iyang, yang mengaku slukiebagai turunan generasi ke-5 dari perempuan perkasa tersebut.

Tak ada keterangan yang detail soal musabab kepindahan rombongan yang terdiri dari 5 keluarga itu. Namun menurut Ahmad Memet Khumaedi (63), bisa jadi hal tersebut disebabkan oleh ketidakstabilan tanah di wilayah Pameungpeuk kala itu. “Puncaknya terjadi ketika Gunung Rasamala (sebenarnya hanya sebuah bukit) yang menaungi Pameungpeuk, entah bagaimana tiba-tiba ‘terbelah’ menjadi dua bagian,”kata salah satu sesepuh yang juga masih keturunan Hajah Maing Khodijah itu.

Dan memang menurut Dr.Visser (1922) dalam On Land Earthquakes 1600-1921, Cianjur meruapakan bagian daerah yang pernah dilanda gempa yang sangat hebat pada 28 Maret 1879 dan 14 Januari 1900. Ketika menjenguk foto-foto lama di situs milik KITLV Belanda, saya menyaksikan betapa hebatnya akibat gempa tersebut hingga menyebabkan rumah-rumah penduduk rata menjadi tanah. Adakah ‘terbelahnya’ Gunung Rasamala disebabkan oleh gempa yang berdaya besar tersebut? Sepertinya para sejarawan harus bekerja keras mencari jawaban dari pertanyaan itu.

Singkat cerita, rombongan pengungsi tersebut sampai di lahan yang ditunjuk Pemerintah Hindia Belanda untuk tempat pemukiman baru mereka. Letaknya hanya sekitar 10 km dari Gunung Rasamala dan ada dalam wilayah  aliran Sungai Cianjur. Mereka lantas membuka lahan dengan menebangi berbagai jenis pohon buah-buahan seperti manggis, kupa, rambutan, menteng dan berbagai jenis pohon buah-buahan yang banyak tumbuh di sana.

Saat proses pembukaan lahan itulah, mereka menyaksikan betapa suburnya kawasan baru yang akan ditempati tersebut. Bukan saja tanahnya yang baik untuk bercocok tanam, namun juga airnya yang seolah tak ada habis-habisnya mengalir, cocok untuk menjadi tempat membersihkan diri.

Konon dari situasi tersebut, awal mulanya tercipta nama  “gasol”. “Gasol itu sesungguhnya berasal dari kata Arab: guslu  yang artinya bersih-bersih. Karena orang Sunda tidak terbiasa melafalkan kata itu, yang muncul kemudian kata “gasol”,”ungkap Ahmad Memet Khumaedi yang dikenal juga sebagai tokoh agama di Gasol.

Ikhwal “akrabnya” para pendiri Gasol itu dengan istilah-istilah Arab dan Islam, bisa ditelusuri dari silsilah 2 tokoh utama pendirinya: Hajah Maing Khodijah dan Haji Tohir. Menurut Apih Iyang, Hajah Maing Khodijah sendiri merupakan putera dari Raden Jagadireksa ( Pa Gede).

“Secara nasab, Raden Jagadireksa ini merupakan turunan Panjalu (sebuah kerajaan Sunda kuno yang ada di kawasan Ciamis) yang masuk Islam lalu menyingkir ke wilayah Pameungpeuk,”katanya. Bahkan kata pameungpeuk sendiri memiliki arti kata “persembunyian” atau “penyamaran”.

Nasab Haji Tohir malah lebih ‘kental’ lagi warna Islamnya. Ia merupakan cucu dari Dalem Sakeh, penyebar Islam di wilayah Citeureup, Bogor. Disebutkan juga Dalem Sakeh ini masih keturunan langsung dari Syeikh Maulana Hasanuddin, Sultan pertama Kerajaan Banten sekaligus penyebar agama Islam di tanah para jawara itu.  

**

HIJRAHNYA ORANG-ORANG PAMEUNGPEUK ke kawasan Gasol ternyata membawa berkah tersendiri. Bukan saja mereka bisa menjadikan Gasol tersebut sebagai tempat yang menenangkan buat beribadah, namun juga sekaligus tempat mereka mencari nafkah. Berbekal benih padi yang  dibawa dari Pameungpeuk, mereka lantas menjadikan hampir sebagian besar kawasan tersebut sebagai sawah. Sebagian lahan lagi mereka jadikan kebun sayuran dan balong (kolam ikan yang cukup luas).

Karena itu, alih-alih hidup susah di tanah pengungsian, orang-orang Pameungpeuk itu malah bisa memenuhi kehidupan mereka dari bertani. “Singkatnya, mau nasi tinggal ambil padi di sawah, mau ikan tinggal ambil di balong, ingin sayuran tinggal ambil di kebun. Praktis kebutuhan yang mereka beli di kota hanya garam dan terasi, makanya muncul pribahasa hirup cukup jang meuli tarasi jeung uyah, ”ujar Apih Iyang. Artinya hidup itu cukup untuk membeli terasi dan garam.

Begitu melimpahnya hasil pertanian di Gasol, sampai  mereka pada akhirnya bisa menjual kelebihan tersebut ke luar desa. Jika saat itu Cianjur dikatakan sebagai lumbung bagi Jawa Barat, maka Gasol adalah lumbung bagi Cianjur. Bahkan menurut Apih Iyang, beras putih yang terkenal hingga didendangkan dalam sebuah tembang cianjuran, Jukut Cirumput adalah beras Gasol, bukan beras Panumbangan.

“Kenapa lebih dikenal sebagai beras Panumbangan, bisa jadi karena dulu beras dari Gasol diperjualbelikan di Panumbangan, yang merupakan tempat penimbangan dan transaksi para pedagang beras dari berbagai tempat,”tuturnya.

Hingga akhir 1960-an, para petani Gasol masih setia menanam pare ageung. Barulah pada sekitar tahun 1971, ketika Presiden Soeharto mencanangkan PELITA I (Pembangunan Lima Tahun ke-1), dengan salah satu programnya swa sembada pangan, Gasol mulai dirambah oleh padi-padi rekayasa genetik yang pertumbuhannya digantungkan pada pupuk-pupuk kimia.

Seiring dengan kondisi tersebut, berbagai “kemajuan” kota mulai merambah Gasol. Pola hidup “cukup jang meuli tarasi jeung uyah”  mulai sirna, digantikan dengan sikap konsumtif gaya manusia modern. Hidup tidak lagi berjalan secara sederhana dan lebih mempertuhankan gengsi.

“Anak-anak muda sekarang pasti pada malu jika harus  turun ke lumpur sawah seperti anak-anak muda dulu,”ujar Aki Elon dalam bahasa Sunda

Makam tua itu membisu seribu basa dimakan zaman. Sekitar sepelemparan batu dari sana, beberapa anak muda tengah bersantai di sebuah pos siskamling. Di kiri kanan mereka, beberapa sepeda motor terbaru buatan Jepang terparkir secara sembarang. Coba tanya kepada mereka tentang hawara batu, gobang omyok atau banggala, dengan diiringi senyum tanpa dosa, pasti mereka menggelengkan kepala.

*)Hendi Johari adalah seorang freelance journalist dan peneliti lepas untuk beberapa lembaga riset di Jakarta.Tulisannya tersebar di beberapa media seperti Republika, ESQ Magazine, Majalah Transmedia, Archipelago Magazine dan beberapa situs internet.


Gasol Saat Ini

LUMBUNG TERAKHIR

Oleh: Hendi Johari*)

Tentang sebuah komunitas yang ingin memanggil kembali kearifan lokal masa lalu ke masa sekarang.

SEORANG LELAKI PARUH BAYA  memasuki sebuah bangunan kayu yang terbuka pagi itu. Udara masih sejuk. Bunyi binatang malam masih tersisa bersanding dengan wangi khas rerumputan liar dan bau lumpur pesawahan. Dalam gerakan yang hati-hati, ia lantas mengaduk-aduk tumpukan sampah organik yang ada di hadapannya dengan sebuah pacul. Bau busuk menyebar, cukup menodai kesegaran udara pagi itu.

“Ini nanti berguna buat pupuk.Karena padi-padi di sini tidak menggunakan sama sekali pupuk-pupuk kimia buatan pabrik,”katanya sambil mengusap dahi dengan tangan kanannya.

Kata-kata sang petani tersebut memang benar adanya. Di Gasol Pertanian Organik (GPO), pupuk kimia seperti Urea, Ponska dan SP 36 sangat dihindari penggunaannya karena mengganggu kesuburan tanah.  Begitu juga dengan pestisida, yang dianggap berbahaya karena akan memutus bahkan menghancurkan sistem rantai makananan, sebuah istilah biologi untuk proses perpindahan energi makanan dari sumber daya tumbuhan melalui seri organisme atau melalui jenjang makan (tumbuhan-herbivora-carnivora-omnivora).

“Jika salah satu rantai makananan terputus atau punah, maka akan terjadi ketidakseimbangan yang berdampak pada munculnya hama atau matinya mikro organisme yang menyehatkan tanah,”ujar Ika Suryanawati, salah satu pendiri GPO.

GPO memilih jalan yang berbeda dengan cara bertani orang-orang  saat ini. Mereka menyatakan justru merasa lebih cocok dengan gaya bertani orang-orang zaman dulu yang dinilainya lebih “bersahabat” dengan alam. Karena itu GPO bertekad, dari Gasol akan muncul kembali pola bertani seperti para petani masa lalu.

”Tidak hanya pola bertani, kami pun ingin menghidupkan beberapa varietas padi lokal yang sudah mulai punah di Cianjur,”ujar Ika.

*

SEMUA BERAWAL DARI SUATU BUKU. Tahun 1991, Ika baru saja lulus dari IPB saat ia menamatkan buku Revolusi Sebatang Jerami. Buku karya Masanobu Fukouka itu dalam perkembangannya ternyata sangat membekas dalam benaknya. “Karena buku Fukouka itulah, saya jadi tertarik untuk membuat sebuah komunitas pertanian organik,”ujar perempuan kelahiran Cianjur tersebut.

Lewat  Fukouka, Ika jadi tahu jika selama ini manusia selalu memaksakan alam untuk berproduksi melebihi batas kewajaran. Ia memberi contoh bentuk pemaksaan itu dengan maraknya produk massal pertanian penuh rekayasa kimiawi. Dengan berbagai cara, tumbuhan dipaksa memproduksi hasil yang banyak dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Manusia hanya menjadi budak ketidaksabaran dan semata mementingkan kuantitas.

Gayung bersambut. Ternyata cita-cita Ika didikung juga oleh Fleming Wong, sang suami. Maka  pada 2004, mereka membeli lahan yang sesuai untuk mewujudkan cita-cita idealnya tersebut. Tempatnya di Gasol, sebuah desa timur kaki Gunung Gede yang tanahnya subur karena banyak mengandung renzina (unsur tanah yang terbentuk dari hasil pelapukan batuan kapur). Dari sanalah lantas muncul komunitas Gasol Pertanian Organik (GPO)

Tanpa menunda waktu, Ika dan Fleming lantas bergerak cepat mencari informasi tentang jenis-jenis padi varietas lokal unggulan yang mulai langka. Jenis-jenis padi itu antara lain hawara batu, gobang omyok, peuteuy, banggala, pandan wangi, beureum seungit, ketan cikur,cingkrik,rogol,hawara jambu, cogreng dan beberapa jenis padi lain yang dulu pernah ditanam oleh orang-orang tua di Cianjur.  

Sayang, usaha mereka untuk mengunduh informasi di internet berakhir nihil . “Semua mesin pencari tidak bisa menemukan informasi yang kami inginkan,”kenang Ika.

Tidak putus asa, mereka lalu mencari informasi langsung ke lapangan. Hampir semua desa yang dulu dikenal sebagai penghasil beras Cianjur, didatanginya. Dari Desa Jambudipa hingga ke Desa Panumbangan. Namun, semua jawabannya sama. ”Para petani itu mengaku sudah lama tidak menanam lagi jenis-jenis padi yang saya cari,” ujarnya.

Baru di paruh kedua 2006, Tuhan menjawab keuletan dan sikap pantang menyerahnya.  Justru dari beberapa petani tua di Gasol, GPO mendapatkan bibit-bibit padi lokal. Kendati untuk mendapatkannya tidak mudah: mereka harus  memilih secara teliti karena di leuit (lumbung)  semua jenis padi sudah bercampur baur.

Langkah berikutnya, GPO menghubungi beberapa petani setempat dan membuat perjanjian kerjasama berdasarkan bagi hasil. Syaratnya antara lain, pola penanaman dan pengelolaan tetap ada di tangan GPO. ”Kami ingin mereka menanam satu lubang untuk satu bibit.” Penanaman satu lubang satu bibit adalah teknik SRI (System of Rice Intensification) yang diterapkan oleh seorang pastur bernama Henri de Laulanie di Madagaskar. Teknik itu lantas menyebar ke berbagai penjuru dunia dan lewat cara yang berbeda diterapkan juga oleh Fukuoka dengan seed ball-nya.

Beberapa hari kemudian, para petani itu datang lagi, dan menyatakan tidak sanggup dengan metode penananaman yang GPO inginkan. Mereka menganggap cara seperti itu hanya membuang-buang waktu saja. Sebagai orang GPO, Ika coba menjelaskan pada mereka sistem satu lubang satu benih adalah cara terbaik untuk membuat padi leluasa berkembang.

”Ibarat manusia, jika dalam satu rumah yang tidak mencukupi ada banyak orang kan suasananya agak tidak bagus dan sehat buat pertumbuhan mereka,”tuturnya. Dibandingkan sistem satu lubang lima benih yang menjadi kebiasaan petani sekarang cara itu waktunya memang lebih lama.

Karena tidak ada titik temu, akhirnya GPO mengakhiri kerjasama tersebut. Mereka keluar dari sistem bagi hasil, dan memutuskan untuk mengupah beberapa petani lain, kendati harus mengeluarkan beaya lebih. ”Cara ini membuat kami bisa bebas menerapkan cara penanaman yang kami inginkan,” kata Ika.

Dalam proses menjalankan pola pertanian organik tersebut, tentu saja GPO memutlakkan penggunaan pupuk kompos dan pupuk kandang. Bahan-bahannya mereka dapat dari sampah-sampah organik rumah tangga penduduk setempat. Untuk pengairan sawah pun, GPO mengambilnya dari aliran hulu Sungai Cianjur yang masih jernih dan belum terkena polusi. “Kami memanfaatkan bahan dan fasilitas yang sudah disediakan alam.”

Lalu bagaimana hasilnya? Sangat menakjubkan. Setelah setahun, padi-padi langka itu tumbuh dengan subur. Panen pertama pun berlangsung sukses. Itu artinya upaya yang dilakukan GPO tidaklah sia-sia. “Alhamdulillah, kami akhirnya bisa menikmati kembali nasi yang dihasilkan dari berbagai varietas padi lokal yang rasanya pulen dan wangi itu,” ujar Ika sambil tertawa.

**

TIGA TAHUN SUDAH BERLALU sejak panen pertama. Pesawahan dan ladang yang dikelola GPO  kian bertambah luas: rata-rata bisa menghasilkan 8 ton padi lokal perhektar. Itu belum ditambah sayur mayur organik seperti bayam, kailan, kangkung,kemangi, dan selada serta beberapa jenis umbi-umbian untuk bahan pembuat tepung organik.

Tepung organik adalah tepung yang dibuat dari beras, ubi jalar, pisang, jagung, kacang merah dan kacang hijau, yang semuanya tentu saja dihasilkan dari pertanian organik.GPO memprodukasi jenis tepung  tersebut untuk umum dan pangsanya bahkan sudah merambah pasar-pasar besar seperti Kemchik Pacifik, Ranch Market Grand Indonesia dan Total Buah Segar.

Lantas berminatkah GPO mengajak petani-petani lokal untuk mengikuti langkah jejak mereka? Menurut Ika, justru itulah yang GPO inginkan. Ditengah gempuran produk-produk pertanian transgenik,  GPO berharap Desa Gasol bisa menjadi lumbung terakhir bagi varietas padi lokal dan produk-produk pertanian organik yang yang dikelola menurut cara-cara arief para leluhur.

GPO memang selalu tak  lelah mengajak para petani lain di Gasol untuk berpaling ke pola pertanian organik. Kepada siapa pun yang mereka jumpai, orang-orang GPO selalu menyampaikan agar manusia kembali lagi ke cara-cara bertani yang diinginkan alam. “Apa yang akan terjadi ke depannya jika alam terus dipaksa untuk berproduksi dengan cara-cara yang tidak selaras dengan keinginannya?”ujar Ika.

Secara wacana, ajakan GPO untuk kembali ke pola pertanian organik, sesungguhnya disambut baik oleh para petani Gasol.Seperti yang dikatakan oleh Apih Iyang (63),”Pola pertanian yang dikembangkan oleh GPO itu memang sebuah pola yang seharusnya dilakukan oleh petani pada umumnya,”kata salah satu sesepuh petani di Gasol yang pernah dikirim GPO ke sebuah pelatihan pertanian organik tersebut.

Namun tidak selalu keinginan berjalan sebagaimana mestinya. Dalam prakteknya, para petani kadang selalu terjebak pada rasa malas, ketidaksabaran dan takut rugi.Itu terjadi karena tuntunan ekonomi yang mendera  hingga mereka tak mau menghadapi resiko “bersakit-sakitan dahulu” seperti yang pernah dulu dihadapi GPO.

Selain mempopulerkan kembali pola pertanian organik kepada para petani Gasol, GPO  menyilahkan lahannya dijadikan ajang riset, studi banding dan pariwisata ekologis. Hingga kini sudah ratusan (bahkan mungkin ribuan) peneliti (baik dari luar maupun dalam negeri), pengunjung dan pemerhati sekaligus pegiat pertanian organik yang datang ke GPO.

“Kami bercita-cita suatu hari GPO bukan saja menjadi sentra bisnis atau pariwisata tapi juga sentra penelitian dan diskusi pertanian organik khususnya pertanian yang memusatkan pada varietas padi lokal,”ungkap Fleming.

Dalam kenyataannya, dari hari ke hari GPO memang semakin berkembang. Karena situasi itulah,  GPO sangat sadar mereka  harus  mencari orang yang  selain memiliki idealisme sama juga bisa mengelola GPO secara langsung. Pilihan akhirnya jatuh kepada seorang lelaki bernama  Roman Abdurahman.

***

MALAM SEMAKIN JAUH MENINGGALKAN GASOL. Jarum jam menunjukan angka 01.05, ketika suara-suara binatang sawah bersenandung laksana memerangi sepinya malam. Di ruangan dapur rumah kayu milik GPO, seorang lelaki tengah membaca sebuah buku. Tangannya berada pada dua ujung bagian lap top yang ada di hadapannya, sementara mata tetap terpusat pada buku bersampul hijau dengan judul Pertanian Organik, Solusi Hidup Harmoni dan Berkelanjutan karya Sabastian Eliyas Saragih.

Ir.Roman Abdurahman nama lelaki jangkung itu. Baru 4 bulan dia memegang pengelolaan operasional sehari-hari GPO yang dipercayakan kepadanya. “Saya memiliki idealisme yang sama dengan GPO: ingin mengembalikan pola pertanian kembali ke jalur alami yang lebih sehat,”ujar lelaki kelahiran Bandung pada 18 Desember 1967 tersebut.

Dalam kesehariannya, selain bertugas sebagai pengelola operasional GPO, Roman juga rajin turun ke lapangan untuk bergaul dengan para petani setempat. Ia tak segan belajar langsung dari petani dan sebaliknya mau membagi pengetahuan yang dipelajarinya di IPB kepada mereka. Karena pergaulannya yang rapat dengan petani itulah, ia bisa menyimpulkan bahwa kemiskinan adalah  masalah utama para petani di Desa Gasol

“Bayangkan saja untuk makan sehari-hari mereka kadang terpaksa menggadai sawah mereka kepada para petani kaya atau para pengijon,”ujarnya.

Karena situasi tersebut, para petani di Gasol tiba-tiba berubah menjadi “orang-orang pragmatis” khas budaya modern. Alih-alih memperhatikan “keinginan” alam, mereka malah “memaksa” alam untuk terus berproduksi tanpa  waktu jeda. Maka merebaklah penggunaan pupuk kimia dan pestisida. Kuantitas menjadi yang utama menyingkirkan kualitas.Lantas menjadi lebih makmurkah para petani Gasol?

“Yang ada mereka malah semakin  jauh terjebak dalam lingkaran kemiskinan,”ungkap Roman.

Bisa jadi kemiskinan itu pula yang menjadikan anak-anak petani enggan mengikuti jejak orangtua mereka. Seperti Asep Suherman (29) misalnya. Ia memilih untuk menjadi tukang ojek dibanding menjadi petani.”Profesi petani zaman sekarang sulit, tidak bisa diandalkan untuk jadi penghidupan,”kata pengojek yang sehari-hari mangkal di kawasan Pasir Angin itu.

Alasan yang sama juga dikemukakan oleh Atikah (32) saat  memutuskan untuk jadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Saudi Arabia. Menurutnya, ia merasa profesi petani tidak bisa memenuhi kebutuahn sehari-hari. “Lagian saya juga ingin mencari  pengalaman kerja selain menjadi petani,”katanya sambil tersenyum.

Sebagai catatan, menurut data yang dikeluarkan oleh pemerintah Desa Gasol, pada 2009 penduduk Desa Gasol berjumlah 7024 jiwa. Namun saat ini jumlahnya berkurang menjadi 6736.”Berkurangnya penduduk Gasol dikarenakan banyak dari mereka yang hijrah ke Saudi Arabia atau Malaysia untuk menjadi TKI,”ungkap T.Syam Soeuri, salah satu aparat pemerintah di Desa Gasol.

Jumlah petani sendiri di Gasol  saat ini hanya 25% (288 jiwa) dari jumlah penduduk Desa Gasol secara keseluruhan. Itu pun sebagian besar terdiri dari buruh tani miskin.Sisanya beraneka ragam: mulai dari buruh bangunan, sopir angkutan kota, tukang ojek, sebagian kecil pegawai negeri dan pensiunan hingga pekerja rumah tangga. GPO berharap dengan adanya lahan pertanian organik bisa menjadi pemicu semangat orang-orang Gasol untuk berpaling kembali ke dunia pertanian. Bukan hanya sebagai buruh penggarap saja, tapi juga sekaligus pemilik.

*)Hendi Johari adalah seorang freelance journalist dan peneliti lepas untuk beberapa lembaga riset di Jakarta.Tulisannya tersebar di beberapa media seperti Republika, ESQ Magazine, Majalah Transmedia, Archipelago Magazine dan beberapa situs internet.

Akankah Beras Cianjur Punah

YANG PUNAH BISA KEMBALI

Oleh:Hendi Johari*)

Bagaimana ketidakberdayaan para petani menghadapi ketamakan pasar berkelindan dengan hilangnya puluhan varietas padi lokal di Cianjur?

Kosasih (46) menggeleng pelan. Dalam tatapan agak takjub, matanya seolah tak percaya memandangi beras merah jenis beureum seungit yang saya sodorkan ke hadapannya.”Orang-orang tua dulu sering cerita tentang padi jenis ini. Teu nyangka ternyata masih ada orang yang mau menanamnya ya?”ujar petani asal Panumbangan itu, seolah kepada dirinya sendiri.

Keheranan Kosasih bisa jadi merupakan pertanda nyata dari semakin ‘terasingnya’ varietas padi lokal di kawasan Cianjur. Seperti yang pernah dilansir oleh Kompas pada 15 September 2008, ribuan varietas padi lokal memang telah lenyap dari ladang petani, menyusul dampak dari ”pemaksaan” kepada petani untuk menanam padi varietas unggul nasional dan hibrida berbasis spesies Indika.

Di Cianjur, sejak dulu konsentrasi penghasil beras ada di 4 kawasan. Masing-masing di Jambudipa dan Bunikasih (masuk dalam wilayah Kecamatan Warungkondang) serta Panumbangan dan Gasol (masuk dalam wilayah Kecamatan Cugenang). Tentu saja beras yang dihasilkan adalah beras yang berasal dari varietas padi lokal.
Kini keberadaan padi lokal tersebut bisa dikatakan sudah langka. Malah menurut Ibrahim Naswari, dirinya ragu hari ini ada para petani Cianjur yang mau menanam padi lokal jenis banggala, beureum seungit, gobang omyok, hawara batu, cingkrik, rogol dan hawara jambu.

“Jenis-jenis padi itu sudah lama “hilang” dari pasar,”ujar petani yang memiliki sekitar 4 ha sawah di Panumbangan tersebut.

Sebelum tahun 1970-an, Ibrahim mengakui jenis-jenis padi lokal tersebut memang banyak ditanam oleh para petani Cianjur (terutama omyok, cingkrik, peuteuy dan hawara batu) dan banyak diminati orang luar Cianjur. Bahkan menurutnya, jenis beras yang dipasok ke istana Presiden saat itu adalah jenis peuteuy asal Cianjur.

“Pokoknya omyok, cingkrik, hawara batu dan peuteuy saat itu menjadi ‘primadona padi” yang menjadi khas Cianjur,”ujar Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) cabang Cianjur itu. Situasi tersebut berlangsung sampai sekitar tahun 1972.

*

CIBEBER 45 TAHUN YANG LALU. Seorang  petani  kahot bernama Haji Nawawi  mulai menanam jenis padi yang benihnya didapat dari seorang tengkulak gabah bernama Kosim. Padi lokal jenis varietas baru ini, dalam perkembangannya ternyata lebih banyak diminati orang. Selain bentuknya lebih bulat dan besar, rasanya lebih pulen, jenis beras ini juga berbau pandan. Karena itu, orang lantas menyebutnya sebagai pandan wangi.

Mendapat respon yang bagus dari pasar, pada 1970, dua petani asal Warungkondang bernama Dimyati dan Haji Djalal (yang tak lain sahabat dari Haji Nawawi) lantas membawa bibit pandan wangi ke tempat mereka di Jambudipa dan Bunikasih. Hasilnya, “Di kedua desa itu, pandan wangi justru tumbuh lebih subur dan bagus dibanding saat ditanam di Cibeber,”ujar Haji Mansyur (63), yang tak lain putra dari Haji Djalal.

Sejak itulah, Bunikasih dan Jambudipa dikenal sebagai sentra pandan wangi. Pamornya mulai mencorong, melebihi Panumbangan dan Gasol  yang sebelumnya sudah dikenal sebagai pusat beras putih khas Cianjur. “Dari situlah, omyok, hawara batu, peuteuy dan jenis-jenis varietas padi lokal lainnya,secara perlahan mulai kurang diminati oleh para petani Cianjur karena kalah bersaing dengan pandan wangi di pasaran,”ujar Ibrahim Naswari.

Kejayaan pandan wangi pun ternyata hanya sampai tahun 1980-an. Akibat permainan pasar yang sering mengoplos jenis beras ini dengan beras yang lebih rendah kualitasnya, menjadikan kualitas pandan wangi anjlok, kendati permintaan tetap tinggi.”Mereka mencurangi konsumen dengan mencap karung yang isinya beras campuran dengan merk  Pandan Wangi asli Cianjur,”ujar Haji Pepen (50).

Otomatis,  situasi itu menjadikan pandan wangi murni jarang didapat dan andaikata ada pun harganya jauh  melonjak di pasaran.Lantas beruntungkah para petani? Alih-alih menikmati kenaikan tersebut, para petani justru mengalami keterpurukan. Logikanya, saat membeli pandan wangi dari para petani, para ‘tengkulak dan pebisnis nakal’ mematoknya dalam harga yang biasa atau bahkan jauh lebih murah. Namun saat ‘melemparnya’ ke pasaran,  “Mereka bisa menjualnya 1 atau 2 kali lipat dari harga yang semula,”kata petani dari Bunikasih itu.

Tingginya permintaan pasar, menjadikan bisnis pandan wangi sangat menguntungkan. Bahkan begitu tingginya kebutuhan pasar, hingga para petani ‘dipaksa’ oleh para pelaku pasar agar meningkatkan produksi dari 1 kali panen jadi 2-3 kali panen pertahun, laiknya jenis padi unggulan nasional.

Untuk memenuhinya, mau tidak mau para petani harus meninggalkan cara penggarapan lama yang  secara natural sebenarnya lebih arif, dengan berpindah ke cara penggarapan baru yang lebih mengandalkan pupuk-pupuk kimia. Akibatnya, kualitas tak terkejar,kerusakan lingkungan sudah jelas terjadi.

Soal kerusakan lingkungan hidup ini, diakui oleh Kosasih. Menurutnya, sejak para petani berpindah ke pupuk kimia, tanah sawah lambat laun menjadi kurang baik kesuburannya. Selain itu,terjadi pula kehancuran rantai makanan di lingkungan sawah. Sebagai contoh, binatang-binatang seperti belut dan ular sawah mulai enggan menempati sawah yang dipupuk dengan pestisida atau urea.

Di lain pihak, petani sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa bertahan hidup tanpa bisa menaikan posisi tawar karena ketiadaan good will dari pemerintah. Wajar jika dalam perkembangannya para petani tersebut tak berdaya saat berhadapan dengan ‘ketamakan” pasar.

**

KINI, DARI 65.123 ha lahan pesawahan yang ada di Cianjur, hanya sekitar 250 ha yang ditanami oleh jenis varietas padi lokal. Mayoritas padi lokal yang ditanam dari jenis pandan wangi.Sisanya dari jenis beureum seungit, omyok, hawara batu, banggala, hanya bisa ditemui di kawasan Gasol.

Di Kecamatan Warungkondang sendiri, pandan wangi hanya ditanam di kawasan Bunikasih dan Jambudipa. Itu pun hanya 10%  mengisi lahan-lahan pesawahan yang ada. Sedang sisanya yang 90%  diisi oleh padi jenis varietas unggul nasional seperti Ciherang, IR-64, Cisantana, Cigeulis dan Cibogo. Di kawasan Panumbangan lebih parah lagi, karena tak ada seorang petani pun yang menanam jenis pare ageung.

“Produksinya pun sedikit, hanya 6 atau 7 ton perhektar,”ujar Haji Mansyur.

Dengan kondisi tersebut, bisakah para petani kembali sepenuhnya beralih ke jenis pare ageng? Haji Mansyur agak ragu,”Kecuali pemerintah turun tangan dan menjadikan penanaman padi lokal sebagai proyek nasional,mungkin baru bisa,”ujarnya sambil tertawa.

Hari ini, hawara batu, gobang ombyok, rogol, banggala, beureum seungit, hawara jambu,peuteuy, cingkrik memang mulai sulit ditemukan benihnya di Cianjur. Namun berbeda dengan Haji Mansyur, Kosasih justru merasa yakin suatu hari padi-padi langka itu bisa kembali. “Jika beureum seungit saja ternyata masih ada, kenapa jenis yang lain tidak bisa?”katanya dalam nada optimis.


*)Hendi Johari adalah seorang freelance journalist dan peneliti lepas untuk beberapa lembaga riset di Jakarta.Tulisannya tersebar di beberapa media seperti Republika, ESQ Magazine, Majalah Transmedia, Archipelago Magazine dan beberapa situs internet.

 layan konsumen

Facebook Fanpage

Pengunjung Online

Ada 59 pengunjung online